Amerika Bawa Kabar Buruk Buat Rupiah, Jokowi Effect Pudar?

Berita, Teknologi164 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan dalam negeri nampaknya harus was-was pasca hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang masih menunjukkan tanda-tanda pengetatan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Padahal, sebelum merayakan hari Kemerdekaan RI mata uang Garuda sempat menguat menembus ke bawah level psikologis Rp15.300/US$ berkat Jokowi effect pada Pidato Kenegaraan dan Pidato Pengantar Nota Keuangan 2024 di acara sidang tahunan lembaga legislatif.

Melansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,36% terhadap dolar AS di angka Rp15.280/US$ pada perdagangan Selasa (16/8/2023). Penguatan tersebut berbanding terbalik dengan penutupan tiga hari sebelumnya ambles ke level Rp 15.300/US$ karena besarnya tekanan eksternal.

Hanya saja, hari ini (18/8/2023) harus cukup waspada terhadap pergerakan rupiah akibat tekanan eksternal yang meningkat terutama dari AS. Ini karena pasca rilis risalah FOMC yang menunjukkan sebagian besar pejabat lebih memprioritaskan pertarungan atas inflasi.
“Dengan inflasi yang masih jauh di atas tujuan jangka panjang Komite dan pasar tenaga kerja tetap ketat, sebagian besar peserta terus melihat risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi dan tetap memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” ungkap risalah dalam pertemuan FOMC.

Hal tersebut semakin menambah ketidakpastian di pasar, pasalnya the Fed melawan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Oleh sebab itu, sikap bank sentral AS tersebut diproyeksi pasar masih bisa ketat lagi untuk pertemuan selanjutnya di sisa akhir tahun ini.

Sebagai informasi, the Fed pada bulan lalu telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 5,25% – 5,00%, merupakan yang tertinggi selama lebih dari 22 tahun dengan target bisa melawan inflasi ke angka 2%.

Baca Juga  Susunan Pemain Timnas U-23 vs Timor Leste: Dewangga dan Jeam Sroyer jadi Starter

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu satu jam rupiah terpantau bergerak sideways dan mulai dekat support terdekat Rp15.250/US$ yang diambil berdasarkan rata-rata garis selama 100 jam atau moving average 100 (MA100). Nilai tersebut bisa digunakan menjadi target penguatan terdekat.

Hanya saja, dengan tekanan eksternal yang tinggi tidak menutup kemungkinan ketika harga menguji support akan terjadi pembalikan arah melemah ke target resistance terdekat di Rp15.300/US$ sesuai dengan round number atau level psikologis-nya.

Jika level psikologis tersebut di tembus pelemahan bisa menguji high candle yang sempat terjadi pada 15 Agustus lalu di Rp15.330/US$.




Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH 
[email protected]  

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbal dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rekor Terbaik Dua Bulan, Rupiah Melonjak 1,2%

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *