Huru-Hara Masih Berlanjut, Bagaimana Nasib Rupiah Hari Ini?

Berita, Teknologi1171 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Tanah Air masih babak belur menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) akibat tekanan eksternal terutama dari negeri Paman Sam dan China.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah sebesar 0,20% terhadap dolar AS, mencapai angka Rp15.210/US$ pada perdagangan Jumat (11/8/2023). Koreksi pekan lalu menjadi yang terlemah sejak empat minggu beruntun, bahkan ini menjadi yang paling buruk selama empat bulan lebih atau tepatnya sejak 23 Maret 2023.


Awal pekan ini rupiah nampaknya masih menghadapi huru-hara dari eksternal terutama dari negeri paman yang akan mengumumkan risalah oleh Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) pada Kamis dini hari waktu Indonesia (17/8/2023).

Risalah ini diharapkan bisa menjadi petunjuk bagi pelaku pasar yang akan memberikan gambaran lebih jauh terkait keputusan the Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) di sisa tahun ini terutama pada potensi kenaikan suku bunga.

Sementara dari kawasan Asia, dua negara tujuan ekspor RI yakni Jepang dan China bakal merilis sejumlah data yang sangat berhubungan dengan aktivitas dagang dalam negeri.

Negeri Sakura diketahui bakal merilis proyeksi data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2023 yang diperkirakan melaju cepat di atas 3%, hal ini tercermin dari tingginya permintaan dan inflasi negara tersebut.

Apalagi ditambah kebijakan moneter ultra longgar-nya melalui pemangkasan suku bunga acuan bank sentral Jepang. Tak hanya itu, Negeri Sakura juga bakal mengumumkan data perdagangan periode Juli 2023, sebagai gambaran impor Jepang pada Juni terkontraksi 12,9% secara tahunan (yoy), sementara ekspor masih tumbuh 1,5% yoy.

Patut diwaspadai apabila data impor Jepang terkontraksi lagi, pasalnya Negeri Sakura merupakan tujuan ekspor terbesar kedua untuk Indonesia. Impor yang terkontraksi menandai permintaan Jepang untuk barang dari luar negeri turun.

Baca Juga  Kasus Kematian Vina Cirebon Kembali Viral Usai Diadaptasi jadi Film, Apa Kabar Pengejaran 3 DPO Sejak 2016?

Selanjutnya, pada Selasa (15/8/2023) China akan mengumumkan data produksi industri, penjualan ritel, dan angka pengangguran untuk Juli. Ekonomi China tengah dalam sorotan tajam setelah data-data ekonomi mereka menunjukkan pemburukan.

Penjualan ritel mereka tumbuh 3,1% (yoy) pada Juni dan diharapkan naik di atas 4,5% pada Juli. Jika penjualan ritel melemah atau di bawah ekspektasi pasar maka hal itu akan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap ekonomi China setelah Tiongkok mengumumkan deflasi pada Juli, pekan lalu.

China adalah motor utama penggerak ekonomi di kawasan Asia sehingga pelemahan ekonomi China juga menjadi alarm bahaya untuk Indonesia.

Dari domestik ada sejumlah agenda penting yang mempengaruhi rupiah diantaranya neraca dagang yang akan rilis besok. Surplus neraca dagang diperkirakan bisa menyusut pada Juli sejalan dengan pelemahan ekonomi China, AS, dan Jepang.

Sebagai informasi, surplus neraca perdagangan pada Juni 2023 tercatat US$ 3.45 miliar. Nilai ekspor Indonesia periode Juni 2023 mencapai US$20,61 miliar atau turun 5,08% dibanding ekspor Mei 2023. Kemudian jika dibanding dengan periode Juni 2022 nilai ekspor turun sebesar 21,18%. Sementara nilai impor RI periode Juni 2023 mencapai US$17,15 miliar, turun 19,40% dibandingkan Mei 2023 atau turun 18,35% dibandingkan Juni 2022.

Agenda penting lain juga datang pada Rabu (16/8/2023) oleh DPR, MPR, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang akan menggelar event tahunan Sidang Bersama. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari dan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah Atas Rancangan Undang-undang (RUU) Tentang Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2024 dan Nota Keuangan pada siang harinya

RAPBN 2024 menjadi sangat penting karena tahun depan bakal menjadi tahun terakhir pemerintahan Jokowi. Pelaku pasar ataupun publik akan mencari tahu seperti apa fokus kebijakan pembangunan tahun depan, terutama terkait subsidi BBM, pembangunan infrastruktur, pembiayaan utang, gaji PNS, kelanjutan pembangunan Ibu Kota Negara, serta proyek lain.

Baca Juga  Aksi Anarkistis Massa di Jayapura Coreng Suasana Duka Pemakaman Lukas Enembe

Publik juga ingin mengetahui legacy apa yang akan ditinggalkan Jokowi di masa terakhir pemerintahannya. Penjelasan Presiden setidaknya akan memberikan gambaran bagaimana kejelasan untuk pemerintahan selanjutnya.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, pergerakan rupiah masih dalam tren sideways akan tetapi posisinya sudah mulai mendekati support terdekat yang bisa menjadi potensi penguatan jangka pendek di posisi Rp15.200/USD. Posisi support tersebut diambil berdasarkan garis rata-rata selama 20 jam atau moving average 20 (MA20).

Hanya saja, tetap perlu diwaspadai fluktuasi harga yang membuat adanya pembalikan arah ke resistance terdekat di Rp15.230/US$ yang diambil berdasarkan horizontal line dari high candle 8 Agustus 2023.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]  

Sanggahan : Artikel ini adalah produk journalistic berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tijdvak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbal dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Jelang Puasa, Rupiah Malah Bertenaga dan Menaklukkan Dolar

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *