Revisi Subsidi Motor Listrik, Emiten Ini Bisa Cuan!

Berita, Teknologi196 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah emiten produsen atau distributor motor listrik berpotensi meraih cuan dari rencana pemerintah untuk mengevaluasi aturan mengenai penyaluran insentif atau subsidi untuk pembelian kendaraan listrik (electric vehicle/EV), khususnya motor listrik.

Sebagaimana diketahui, ada sejumlah pemain motor listrik di bursa. Sebut saja, PT Ilectra Motor Group (IMG), joint venture antara emiten energi PT Indika Energy Tbk (INDY), Alpha JWC Ventures, dan Horizons Ventures. IMG memproduksi motor listrik dengan brand Alva.

Kemudian, emiten milik Luhut B. Pandjaitan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang masuk ke bisnis EV roda lewat brand Electrum, yang merupakan joint venture dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Emiten Grup Kresna, PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang merupakan anak usaha PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) juga memiliki motor listrik dengan merek Volta.

Lebih lanjut, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) dengan E-Motor dan PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) dengan T1800 dan pengembangan TX3000 juga ikut meramaikan pasar motor listrik Tanah Air.

Emiten anyar, yang melantai pada 8 Mei 2023, PT Informasi Teknologi Indonesia Tbk (JATI) juga terjun ke bisnis motor listrik dengan menjadi distributor penjualan dengan menggandeng PT The Agung Pamungkas (Tangkas).

Sebelumnya, pemerintah tengah mengevaluasi aturan mengenai penyaluran insentif atau subsidi untuk pembelian kendaraan listrik, khususnya motor listrik. Kelak, tidak hanya Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM), namun masyarakat umum juga dipertimbangkan untuk bisa mendapatkan subsidi motor listrik.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi penyaluran insentif motor listrik minim. Hal itu terlihat pada target 200 ribu penyaluran namun realisasinya hanya 1%. Sehingga, dia mengatakan bahwa aturan penyaluran insentif motor listrik bakal disederhanakan.

Baca Juga  2.000 Lebih Polisi Amankan Debat Pamungkas Pilpres 2024 di JCC

“Kita tadi pertimbangkan setiap satu KTP, satu motor listrik, ada pertimbangan seperti umum,” kata Bahlil, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Senin (7/8/2023).

Relaksasi tersebut tentu akan menjadi angin segar bagi para pemain motor listrik, termasuk emitennya di bursa, lantaran bisa mendongkrak penjualan perusahaan.

Selain itu, insentif yang sebelumnya hanya diberikan pada pelaku UMKM, dilihat kurang berhasil sehingga akan dibuka untuk umum. “Kelihatannya untuk ke depan akan dibuka untuk umum,” kata Bahlil.

Secara terpisah, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan tidak hanya untuk penghapusan syarat penerima insentif motor listrik yang dihapuskan, berbasis NIK atau KTP. Untuk insentif kendaraan roda empat juga dievaluasi.

“Untuk mobil listrik roda empat di mana peserta-nya baru Wuling dan Ionic 5, nah kalau evaluasinya nanti kami pemerintah akan melihat bagaimana mempermudah termasuk restitusi,” kata Agus Gumiwang.

Selain itu Pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi untuk pemberian insentif kepada calon investor yang membawa investasi mobil listrik ke Indonesia. Dengan pemberian insentif fiskal yang kompetitif dibandingkan negara tetangga.

“Misalnya pajak PPN CBU bisa kita 0 kan. ini sedang kita rumuskan. tentu bersama Kemenkeu, tapi tadi pak Presiden sudah menyetujui jadi semua kebijakan fiskal kita harus kompetitif dibandingkan negara lain,” katanya.

Selain itu, Pemerintah juga mau melakukan relaksasi aturan TKDN yang tertuang dalam Prepres 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Dimana dalam aturan itu wajib TKDN pada tahun 2024. “Nah itu kita relaksasi jadi 40% ada pada 2026,” ujarnya.
Kinerja Saham

Apabila menilik kinerja saham emiten yang disebutkan di atas, BIKE menjadi yang paling moncer. Harga saham BIKE melonjak 104% sejak awal tahun (year to date/YtD) ke Rp408/saham.

Baca Juga  VIDEO: Tawa Lepas Cak Imin Respons Santai Ucapan Menag Yaqut: Banyak Amin di Masjid

Asal tahu, BIKE melantai di bursa pada 21 Maret 2022 dengan harga penawaran perdana (initial public offering/IPO) Rp170/saham dan meraup dana Rp55 miliar.
Selain BIKE, kinerja saham emiten di atas malah loyo. MCAS, misalnya, turun 9,66% dan kendati turun valuasinya (berupa rasio price-to earnings/PE) masih sangat mahal 1.612,43 kali (atau di atas aturan umum 10-15 kali).

JATI, yang listing pada 8 Mei 2023, jyga minus 14,00% dengan rasio P/E, khas emiten anyar, yang juga menjulan tinggi hingga 2.015,94 kali.
Emiten batu bara yang terjun ke EV, INDY dan TOBA, juga tertekan. Kinerja YtD INDY minus 27,21% dan TOBA minus 38,62%.


Namun, secara valuasi, lantaran ketiban durian runtuh saat melonjaknya harga batu bara di 2022, rasio P/E INDY dan TOBA terbilang murah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBCIndonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pedagang Belum Bisa Jual Motor Listrik Subsidi, Kenapa?

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *